Batik Yang Asli Tidak Selalu Mahal | MalangBisnis | Media Partner Bisnis Anda
MALAN-BISNIS.com — Paguyuban Pencinta Batik Sekar Jagad Yogyakarta berupaya mengajak masyarakat mengenakan kain batik yang asli. Untuk memacu minat masyarakat, paguyuban itu mengadakan pameran yang menyediakan aneka kain batik dengan harga terjangkau.

Ketua Paguyuban Pencinta Batik Sekar Jagad Yogyakarta Larasati Soeliantoro mengatakan, agar tetap lestari, batik harus kembali menjadi bagian kehidupan masyarakat. "Pokoknya, bagaimana agar kain batik dipakai sehari-hari," katanya, saat ditemui di Bazar Batik Ramadhan 2010.

Ia mengemukakan, saat ini minat memakai kain batik memang tumbuh. Namun, masyarakat belum menyadari bahwa pakaian yang mereka pakai bukan batik, melainkan tekstil bermotif batik.

Melihat kondisi itu, pihaknya berupaya menyosialisasikan perbedaan kain batik asli dengan tekstil bermotif batik. Pameran kain batik setiap bulan menjadi misinya.

Menyambut Ramadhan dan Idul Fitri, pihaknya berupaya menghadirkan kain batik asli dengan harga terjangkau. "Di sini ada kain batik mulai harga Rp 50.000. Itu batiknya cap. Jadi, kain batik yang asli itu tidak harus mahal," kata Soeliantoro.

Bazar batik itu digelar di gedung bekas Hotel Toegoe di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta. Di sana, pengunjung bisa menemukan aneka jenis kain batik yang dikumpulkan dari para perajin di Gunung Kidul, Kulon Progo, Bantul, Klaten, Purworejo, Lasem, hingga Kebumen, Jawa Tengah. Selain kain batik beragam motif, ada juga pakaian siap pakai dari kain batik.

Soeliantoro mengatakan, pihaknya berharap bazar itu terus berlangsung hingga Idul Fitri. Dengan begitu, masyarakat luar DIY yang ingin membeli kain batik bisa datang. "Kami berupaya meminta izin memperpanjang bazar," ujarnya.

Berdasarkan pengalaman libur Idul Fitri sebelumnya, volume penjualan batik memang meningkat. Namun, peningkatan itu biasanya dinikmati para pedagang kain bermotif batik. Adapun kain batik yang asli justru belum banyak dikenal.

Terus dikembangkan
Saat ini, untuk pelestarian batik, pengembangan dan pemasaran kain batik hasil karya para perajin terus dilakukan. Mereka diberi bantuan.

Salah satu bentuk pengembangan kain batik itu, misalnya, dengan lomba desain batik dan membantu penyaluran 1.000 kompor listrik bantuan Gubernur DIY bagi para perajin batik. Selain itu, Paguyuban Sekar Jagad juga terus mendorong penggunaan bahan pewarna alam. Pada bazar itu, pengunjung juga bisa menemukan kain batik yang menggunakan zat pewarna alam. Kain batik tersebut, antara lain, dihasilkan oleh Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan perajin di Bantul.(MB-34)


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar