Bisnis Busana Muslim Penuh Persaingan | MalangBisnis | Media Partner Bisnis Anda
MALANG-BISNIS.com - Peredaran busana muslim di pusat grosir, trade center tak lepas peran para perancang. Bagaimanapun perancang busana muslim papan atas macam Iva Lativah, Nuniek Mawardi, atau Merry Pramono masih jadi barometer untuk para perancang pemula atau bahkan muda usia. Bagaimana tren busana muslim tahun ini dalam pandangan mereka?
“Tahun ini, geliat busana muslim semakin semarak. Fesyen kan sudah jadi kebutuhan primer,” jelas Iva Lativah.
Permintaan yang semakin meningkat membuat kreativitas para perancang semakin tertantang. Kalau beberapa tahun silam pasar lebih merespon warna-warna terbatas putih atau hitam atau cokelat, saat ini pemakai busana muslim lebih berani.

“Warna-warna tanah masih ada, tapi ibu-ibu muda saat ini sangat menggemari warna-warna terang yang lebih segar,” ulas Iva. Meski banyak bermain dalam warna dan detail, Iva mengatakan garis rancangannya sama sekali tidak diberi tema.


“Tidak ada tema, saya hanya ingin konsumen terlihat cantik dan simpel,” katanya beralasan.
Iva mengakui, perkembangan busana muslim tanah air semakin laju. Makin banyak perancang muda bermunculan.

“Saya tidak mau melihatnya sebagai persaingan, justru menanggapinya dengan positive thinking karena usaha busana muslim tidak semata-mata mencari uang, tapi juga untuk ibadah dan berdakwah,” ulas Iva.

Makin banyaknya pemain baru direspons positif Iva.
“Setiap dua bulan pasti ada peragaan busana, dan itu perlu kurang lebih 3 bulan mempersiapkannya. Untuk tiap show harus menggunakan rancangan baru. Saya selalu memakai kain tenun yang diolah sendiri dengan motif kain (biasa) hingga batik,” papar wanita yang lahir dan besar di Bandung ini.
Dalam pandangan Merry Pramono, tren busana muslim tahun mendatang akan kembali ke model klasik dan bermain warna pastel.

“Mungkin kalau fashion show banyak yang berani bermain warna agar terlihat menarik, tapi dalam pemakaian sehari-har biasanya pelanggan lebih suka warna-warna yang lembut. Agar terlihat glamor dan elegan mereka lebih menonjolkan detail dan aplikasi. Secara umum, bentuknya akan kembali ke nuansa timur tengah,” urai Merry.

Tapi bukan berarti semua pelanggan seragam.

Merry Pramono (istimewa)
“Biasanya, kalau kami bertemu pelanggan banyak yang meminta aplikasi lebih sederana. Mereka meminta aplikasi yang nyaman saat dipakai shalat ied maupun open house saat Lebaran,” tukas Merry.
 
Soal banyaknya perancang muda yang bermunculan, baik Iva maupun Merry menerima dengan tangan terbuka.
“Kelemahannya garis rancangan mereka masih meraba-raba,” beri tahu Iva.
Tapi Iva melihat dengan semangat yang tinggi kemajuan mereka akan semakin terlihat. “Kehadiran percancang muda sangat baik untuk dinamika industri ini. Saya jadi lebih giat dan selalu mencari inovasi baru,” kata Merry.
Hanya saja, mereka berharap, perancang busana muslim mengikuti aturan dalam membuat desain. Dia tak keberatan ada percanang busana pesta yang memperlebar saya ke bisnis busana muslim.
“Asal sesuai dengan islam, tidak ketat, tidak transparan dan tak menyerupai pakaian laki-laki,” kata Iva. 

“Jangan terlihat leher, jangan tipis, jangan terlalu ketat. Saya mengerti kalau ada pelanggan yang meminta ini itu, tapi kami sebagai perancang harus bisa memberi masukan yang tepat,” ucap Merry.

Soal contek-mencontek? Tak ada toleransi! Tapi Merry menanggapi bijak.
“Itu risiko. Misalnya busana kami keluar pekan ini, enggak lama pasti akan banyak yang mengikuti di pasaran. Tapi pelanggan kan akhirnya yang bisa menilai. Ada perbedan pada bahan, detail, dan sentuhan. Rezeki itu kan sudah ada yang mengatur,” tambah Merry bijaksana.

Dengan semakin majunya industri busana muslim, Iva dan Merry berharap dukungan dari pemerintah. “Perancang Malaysia saja mendapat dukungan penuh dari pemerintahnya. Saya harap Indonesian juga demikian.”

Sepertinya keinginan itu direspons pemerintah. Pada 3 Agustus nanti akan digelar Indonesian Islamic Fashion fair selama sebulan. Saya harap kelak negara kita bisa menjadi kiblatnya busana muslim dunia,” harap Merry. Amin. (MB-32)

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar