Kiat untuk Menjadi Desainer Sukses | MalangBisnis | Media Partner Bisnis Anda
MalangBisnis.com - Lulusan sekolah desainer di Indonesia sudah banyak. Dari tahun ke tahun, begitu banyak lulusan yang bergelontor ke masyarakat. Namun, hanya segelintir yang pada akhirnya berhasil sukses membuat namanya berkibar, dikenal karena karya bagusnya, dan akhirnya mendatangkan banyak penghasilan dari karyanya. Apa kuncinya?

Usai pagelaran busana para lulusan 2010 dari sekolah mode yang ia pimpin, Susan Budihardjo mengatakan, "Konsisten dalam berkarya dan punya ciri khas, menurut saya adalah hal-hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang desainer yang baik." Pagelaran yang berlangsung di Hotel Mulia, tersebut juga turut mengundang 42 lulusan dari lembaga pengajaran tata busana Susan Budihardjo

untuk turut ambil bagian dan melihat hasil karya para desainer baru.

Eddy Betty, salah seorang lulusan sekolah tata busana tersebut juga turut meramaikan pagelaran dengan salah satu rancangannya. Ia berpesan kepada para desainer pemula, "Segalanya harus dimulai dari diri sendiri, jangan pernah berhenti belajar. Saya pun masih belajar juga. Terus mencari tahu bagaimana untuk jadi lebih baik, lebih inovatif, lebih rapi, bukan masalah tahu cara menjahit, tetapi bagaimana cara supaya baju lebih beraura. Kalau saya pribadi, maunya baju itu berjiwa, kalau dipakai, orang bisa kagum. Tidak harus heboh, tetapi punya aura sendiri. Itu pelatihannya lewat pengalaman. Saat kita membuat pakaian untuk orang lain, kita lihat saat dikenakan, lalu kita perhitungkan di mana kekurangannya. Itu juga dari waktu ke waktu belajar."



"Sekolah itu kan basic, belajar pola, cutting, dan lainnya. Tetapi banyak pengalaman-pengalaman yang tidak diajarkan, seperti cara berinteraksi dengan manusianya (dengan klien, pegawai, pemasok bahan), how to behave (cara melayani), management, dan marketing, aku rasa sekolah fashion hanya gamblang saja mengajarkannya, karena fokusnya hanya ke kreasi dan cutting," jelas pemilik butik Edbe (baca: E di bi) ini usai pergelaran busana.
Lebih lanjut, Eddy mengungkap, "Aku rasa hal-hal seperti itu (interaksi dengan manusia, cara melayani, management, marketing), harus belajar sendiri. Tidak bisa semua diajarkan, karena masing-masing orang kan lain. Masing-masing pun punya klien yang berbeda. Tetapi kalau kami para alumnus diajak bicara dan sharing, para lulusan jadi punya kesempatan untuk punya wawasan sedikit, seperti bagaimana menghadapi para klien. Mungkin, klien saya sama klien Didi Budihardjo atau Sebastian kan (ber)beda."

Saran lebih lanjut untuk para desainer pemula, Eddy mengatakan, "Harus mau banyak eksplorasi, dalam banyak hal. Teknologi sekarang sudah maju. Banyak yang bisa digali dari banyak hal. Internet, Facebook, dan mencari buku pun sekarang sudah lebih mudah, tidak seperti zaman saya dulu. Saya dulu sampai harus menunggu kiriman buku dari teman di Paris. Sekarang pun ada Fashion TV, situs gaya, jadi lebih mudah untuk tahu tren."

Sementara di belakang panggung, Sebastian Gunawan menceritakan hasil pengamatannya terhadap hasil karya para desainer baru, "Sebenarnya, banyak anak-anak berpresepsi bahwa mendesain itu harus sesuatu yang over the top, tetapi kemudian hilang fokus dari daya pakai. Padahal, at the end, daya pakainya harus tinggi. Selain bentuk, siluet, perlu diperhatikan juga detail. Yang berlebihan akan sulit dipakai. Tetapi ajang ini adalah pameran kreasi, jadi sah-sah saja. Tetapi, di kehidupan nyata, perlu diperhatikan kerapihan dan daya pakai."

Saran pria yang sering malang melintang di panggung mode internasional ini untuk sukses di dunia mode, "Perlu sensitivitas untuk membaca pasar. Jadi, apa yang pasar inginkan, kita harus bisa sensitif melihat, menerka perkembangan, dan mengetahui keinginan pasar. Itu yang akan membuat kita tetap eksis dan berada di masyarakat."

Di kesempatan yang sama, perancang Adrian Gan mengatakan, "Ada banyak yang harusnya dipelajari para desainer tetapi tidak ada di kurikulum. Salah satunya, belajar untuk bisa mengendalikan diri dan konsisten dengan gaya kita sendiri. Jangan terpengaruh tren terlalu banyak. Walau ikut tren, karakter kita harus tetap ada. Setiap tahun, akan makin banyak desainer muda, seperti jamur di musim hujan. Tiap tahun, lulusan begitu banyak. Karena itu, karakter, identitas, dan kekhasan rancangan harus kuat, tidak hanya bagus. Kalau cuma bagus, sudah banyak yang begitu. Tetapi karakter itu syarat utama. Konsistensi itu yang akan membuat kita tetap terus eksis."(MB-8)

***

Sumber : KOMPAS


Dilihat sebanyak :
Lihat Artikel Lainnya
Lihat Informasi & Promosi Bisnis
Follow Twitter @MalangBisnisCom















Baca MalangBisnis.com dari mana aja, tersedia versi mobile, Buka dari HP mu...




Tidak ada komentar:

Posting Komentar