Selamat Jalan Oma Ida Kusuma... | MalangBisnis | Media Partner Bisnis Anda
Seluruh Crew dan managemen Malang-Bisnis.com mengucapkan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya oma IDA KUSUMA...

MALANG-BISNIS.com - Suasana cukup ramai. Sebab ini syuting Cinta Fitri. Sebuah sinetron yang pengemarnya ada di sekujur negeri. Kamis 25 November 2010 itu, jarum jam sudah menghentak bilangan delapan malam. Kini giliran Ida Kusuma yang maju berlakon.

Dalam sinetron yang digemari ibu-ibu itu, Ida Kusumah berperan sebagai seorang nenek lihai. Lakon utama dalam film ini adalah Fitri dan Farel. Fitri adalah gadis desa nan ayu dari Wonogiri, Jawa Tengah. Dia menetap di Jakarta bersama bibinya. Menjual jamu, lalu jadi cleaning service di kantor Farel, anak orang kaya yang cintanya terbang bersama Mischa, gadis pujaannya ke negeri seberang.

Cinta Fitri adalah drama cinta dua dunia. Dunia Fitri yang kekurangan dan dunia Farel yang kemilau harta, juga kehormatan. Dan Ida Kusuma menjadi Oma Farel, yang memperhatikan sang cucu dari tujuh penjuru. Dari penampilan, makan, dasi, juga cintanya.

Kamis malam itu, saat tiba gilirannya, Ida Kusumah terlihat duduk rileks di kursi. Sutradara memintanya maju. Tapi dia tidak bergeming. Para kru mengira si Oma ini tertidur. Berusaha membangunkannya dengan hati-hati. Tapi sia-sia belaka.

Kecemasan mulai menghinggapi para kru. Mata Ida Kusumah tertutup rapat.  Dibangunkan berkali-kali, tak ada respons. Tapi nadinya masih berdenyut. Hembusan nafas hangat juga masih meruap dari hidung. Para kru cepat-cepat mengangkutnya ke Rumah Sakit Cinere.

Tindakan gawat darurat diberikan. Sia-sia. Denyutnya perlahan melemah, dan hilang. Sekitar pukul 20.30, artis 71 tahun itu dinyatakan meninggal dunia. Diagnosis mengarah pada serangan jantung.

Kerja hingga Jauh Malam
Kepergiaan Ida tak hanya menyentak kru sinetron Cinta Fitri, tapi juga dunia hiburan tanah air. Ia adalah satu dari sedikit artis senior yang masih aktif bergulat di dunia seni peran. Dalam usia yang nyaris sepuh, ia nekat  menguras tenaga hingga malam. Bahkan hingga pukul tiga pagi. 

Artis senior Yati Octavia sangat terkejut saat mengetahui Ida meninggal dunia di lokasi syuting. "Nggak nyangka kejadiannya seperti ini. Kalau melihat kerja Oma Ida sampai jam 3 pagi saya rasa sudah nggak layak dengan usia beliau. Oma Ida seharusnya sudah stop syuting sampai malam," ucap Yati di sela-sela prosesi pemakaman, di TPU Tanah Kusir.

Kecintaan Ida pada dunia seni peran sungguh luar biasa. Dua hari sebelum meninggal, Ida masih bersemangat menceritakan persiapannya menghadiri Festival Film Indonesia. "Ia bilang sama saya bahwa dia sudah mempersiapkan empat sepatu. Ia memang terkenal matching dalam berbusana. Sedih sekali kalau ingat itu," kata Connie Suteja, sang sahabat.

Di mata para sahabat, Ida merupakan sosok aktris profesional dengan etos kerja mengagumkan. "Saya salut dengan dedikasi beliau. Kalau ketemu dia, saya suka godain. Karena beliau itu lucu, periang dan suka latah. Itu yang saya nggak bisa lupa," ujarnya.

Kesetiaannya pada dunia akting membuatnya meraih Penghargaan Kesetiaan Profesi dari Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N), 1996.

What Happen Aya Naon
Ida meninggalkan kesan mendalam tak hanya bagi sahabat, tapi juga pecinta film dan sinetron lokal. Artis kelahiran 31 Agustus 1939 ini begitu khas dengan celotehan yang memadukan aksen Sunda, Belanda, dan Inggris, seperti: 'Verdomme!', 'Si Borokokok' dan 'What Happen Aya Naon'.

Celotehan khas yang populer sejak kemunculannya di film ‘Catatan Si Boy’ itu bahkan masih bertahan hingga penampilan terakhirnya. Simak saja dialognya bersama karakter Misca dalam sinetron 'Cinta Fitri'. Sahutan 'Si Barakokok' masih rajin muncul dari karater Oma yang diperankannya.

Melengkapi celotehannya yang khas, ia juga begitu lekat dengan penampilan bak noni-noni Belanda. Sanggul menjulang. Dandanan mentereng. Semua senada dengan warna busana, aksesori, dan sepatu hak tinggi. Plus, kacamata dan kipas.

Penampilan khas ini juga masih terjaga hingga akhir hayatnya. "Nggak keren katanya kalau nggak pakai sepatu hak tinggi dan baju nggak matching," kata Connie yang begitu mengagumi sosok Ida yang selalu ceria.

Mengawali karier pada 1955, ia berakting lewat debut film 'Putri Revolusi'. Dalam film arahan Ali Yugo itu, ia beradu akting dengan aktor terkenal di zamannya, Soekarno M Noer dan Turino Djunaedy. Namun, itu belum berhasil melambungkan namanya. Tak heran jika ia banting stir ke dunia model dan tarik suara.

Namanya mulai melambung setelah meraih mahkota Putri Peragawati I dan Ratu Jakarta III, pada 1960. Bersama Connie Suteja, Rina Hasyim dan Nani Wijaya, ia juga sukses merebut perhatian pecinta musik tanah air lewat grup vokal 'Golden Gilrs Indonesia'.

Sukses itu mengembalikan langkahnya ke dunia seni peran. Pada 1961, pemilik nama Siti Endeh Ida Hendarsih Atmadi Kusumah ini mencuri perhatian lewat peran utama di film 'Malam Tak Berembun'. Kemampuan aktingnya pun semakin diperhitungkan.

Di sela kesibukannya sebagai model dan penyanyi, tawaran akting mengalir kian deras. Hingga 2007, sedikitnya 62 film sudah ia bintangi. Salah satu yang melegenda adalah perannya sebagai ibu berkarakter judes di serial film 'Catatan Si Boy', bersama Meriam Belina dan Onky Alexander.

Hingga akhir hayatnya, Ida tak pernah mengeluh bosan bermain peran. Akting sudah mendarah daging dengan hidupnya. Bukan semata-mata demi materi, tapi demi kepuasaan jiwa. Selamat jalan Oma! (MB-9)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar