Ini Kiat Ibu-ibu Pantau Anak Bermain Facebook | MalangBisnis | Media Partner Bisnis Anda
MALANG-BISNIS.com - Maraknya kasus remaja kabur bersama pacar yang baru dikenal melalui Facebook, membuat para orangtua (ortu) cemas. Apalagi korban terus berjatuhan. Setelah siswi SMPN di Sidoarjo, Marieta Nova Triani, 13, kini giliran siswi SMA 22 Surabaya, Stefani Abelina Napitupulu (15) menghilang sejak Sabtu (6/2) dan hingga Rabu (10/2) belum ditemukan.

Kecemasan akan dampak negatif Facebook itu menjadi topik perbincangan orangtua, terutama ibu-ibu. Evie Suryani, (42) sengaja menambah (add) teman-teman anaknya. Cara ini untuk memudahkan dia mengawasi pergaulan kedua anak perempuanya, Mevira Bafaradina Yanuar (15) dan Meviana (13) yang maniak Facebook. “Harus begitu jadi orangtua zaman sekarang. Harus mengenal teman anak-anak juga,” kata Evie Rabu (10/2).

Bukan itu saja, Evie juga selalu menemani ke mana saja Mevira dan Meviana bepergian. Setidaknya Evie harus memantau mereka. Keluarga Evie termasuk melek teknologi. Komputer di rumah terpasang dengan jaringan internet dengan pembayaran bulanan. Kedua ponsel anak tersambung dengan GPRS, sistem mengakses internet. Serta BlackBerry (BB) milik Evie senantiasa on untuk Facebook dan instant message (IM).

Evie sengaja meletakkan komputer di ruang tengah supaya dapat diakses seluruh penghuni rumah. Selain itu, dia dan suami lebih mudah mengawasi anak-anak. “Saya ingat perkataan teman yang paham parenting. Mereka bilang sebelum usia 20 tahun, jangan pernah meletakkan televisi, DVD player, atau komputer di kamar anak,” kata Evie.

Kedua anak Evie dibatasi akses internet via komputer. Hanya dua jam selama waktu libur saja. Syaratnya masih ditambah harus sudah mandi dulu. "Kalau tidak begitu, mereka lupa mandi dan makan begitu asyiknya buka Facebook,” ujar Evie.

Sesekali Evie melirik layar komputer. Kalau pas akun Facebook, Evie menghampiri mereka dan bertanya foto siapa yang anak-anak buka, apa yang sedang dilakukan temannya itu.

Baik Mevira dan Meviana juga saling mengawasi penggunaan komputer. Jika lebih dari dua jam, maka mereka saling melaporkan kepada orangtuanya. “Pernah bayar sekitar Rp 400.000 - Rp 500.000, saya tegaskan tidak mau bayar. Akhirnya mereka menguras isi tabungannya sendiri,” tutur Evie sambil tertawa mengingat sikap anak-anaknya. Setidaknya itu melatih tanggung jawab mereka.

Diakui Evie, akses FB melalui GPRS ponsel tidak bisa diawasi setiap saat. Namun, karena terkait penggunaan pulsa, mereka lebih sering memakai BB milik Evie. (MB-87)

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar