"Lho", Orangtua Kok Mengerjakan PR Anak? | MalangBisnis | Media Partner Bisnis Anda
MALANG-BISNIS.com  Ada pekerjaan rumah, pasti ada kesibukan. Sebagai orangtua yang baik, kita tidak mungkin berdiam diri saat anak mendapatkan PR. Bahkan, sepulang anak sekolah, kita kerap bertanya, "Ada PR enggak, hari ini?"

Namun sayang, sadar atau tidak, sering kali orangtua yang seharusnya hanya sekadar membantu justru banyak ambil bagian atau bahkan menyelesaikan semua PR anaknya. Padahal, bila kita tahu, PR merupakan salah satu instrumen penting dalam sebuah proses pembelajaran anak. Maka, kita tidak akan melakukan hal tersebut.

Harus dipahami, PR merupakan sebuah media atau alat yang dapat membantu anak untuk mengetahui, memiliki ketrampilan, dan memahami tentang apa yang sedang mereka pelajari. Kelebihan lain, dengan PR akan tumbuh proses pencapaian tujuan pembelajaran yang berjalan dua cabang, di sekolah dan di rumah.


Selain itu, lewat PR, anak juga berlatih bertanggung jawab terhadap tugas. Malah, dengan PR, kata Niken Anggrahini, SPsi, kevakuman belajar di sekolah karena tanggal merah bisa tergantikan. Ingat, walau libur, roda kurikulum harus terus berputar.

Tidak tercapai
Niken mengatakan, orangtua seharusnya hanya membantu anak dengan cara mendampingi atau memberi petunjuk kala anaknya mengerjakan PR. "Bila lebih dari itu, manfaat-manfaat tersebut malah tidak didapatkan, terutama dalam mengasah pemecahan masalah dan kreativitas," tuturnya. Tujuan utama guru memberikan tugas atau PR kepada anak didiknya pun tidak tersampaikan.

Bila orangtua nekat mengerjakan PR anak, apa pun alasannya, bisa jadi anak tidak belajar dengan baik, kecuali untuk anak-anak yang genius. Niken berpendapat, semua anak butuh mengulang kembali pelajaran yang didapatkannya di sekolah agar lebih paham. Ingat, lewat PR, anak dapat belajar dengan baik karena kembali apa yang telah dipelajarinya sesuai dengan kecepatan pemahamannya masing-masing.

Hal ini sangat membantu anak, apalagi kita tahu sekolah memiliki jadwal cukup ketat. Lama satu jam pelajaran itu 30-45 menit. Dalam waktu yang sesingkat itu, guru harus menjelaskan konsep tertentu kepada murid-muridnya. Padahal, karena berbagai faktor, tidak semua anak bisa langsung memahami apa yang disampaikan. Oleh karena itulah, dibutuhkan pengulangan di rumah dalam bentuk PR.

Bila orangtua tetap mengerjakan PR anak, lanjut Niken, anak tidak dapat melatih kemampuannya dalam menyelesaikan masalah. Padahal, penyelesaian masalah membutuhkan kemampuan berpikir yang cukup kompleks, yaitu melibatkan pengenalan masalah, pencarian informasi, penentuan dan penerapan informasi, dan lain-lain. Bila anak tidak dibiasakan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dia akan selalu bergantung kepada orang lain dan tidak mandiri.

Tak perlu kasihan
Niken berpesan, orangtua harus menjauhkan ketakutan bahwa anaknya akan mendapat nilai rendah. Ingat, menjadi yang terbaik dengan usaha sendiri itu akan memberikan manfaat yang lebih banyak bagi anak. Dengan berhasil mengerjakan tugasnya sendiri, anak akan menjadi individu yang percaya diri dan lebih optimistis. Kedua modal itu tidak hanya akan membantu anak di bidang akademik, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan yang lain, seperti pergaulan dengan teman-temannya.

Selain itu, orangtua harus menjauhkan rasa kasihan kepada anak. Jika PR anak dirasa terlalu menumpuk, sebaiknya orangtua berkomunikasi dengan guru agar tercipta pengertian yang sama antara orangtua dan guru mengenai tujuan pemberian PR tersebut. Bila orangtua mengambil alih mengerjakan PR anaknya karena kasihan melihat anaknya terlalu lelah, orangtua sebaiknya mengecek ulang jadwal anak. "Bisa jadi anak kelelahan karena terlalu banyak ikut les atau kegiatan ekstrakurikuler lainnya di luar sekolah," tutur Niken.

Untuk hal ini, orangtua bisa berdiskusi dengan anak mengenai mana kegiatan yang perlu dikurangi, mana kegiatan yang bisa dilakukan lain kali ketika jadwal anak tidak sepadat sekarang, dan sebagainya. Dengan begitu, anak pun memiliki waktu luang untuk hal bermanfaat lain, termasuk mengerjakan PR.

Tetap temani
Agar anak mau mengerjakan PR dengan nyaman dan mudah, orangtua perlu membantu anak secara efektif, yaitu berkomitmen terhadap proses.

Pertama, sediakan waktu tenang. Pertimbangkan kebutuhan anak. Beberapa anak merasa lebih baik mengerjakan PR begitu tiba di rumah karena masih bisa mengikuti ritme sekolah. Ada pula yang perlu waktu cukup lama untuk melakukan hal lain sebelum ia berkonsentrasi pada PR.

Kedua, mengatur dan mempertahankan waktu rutin itu. Misalnya, dari pukul 19.00 sampai 20.30 menjadi waktu tenang bagi setiap anggota keluarga. Tidak ada yang menonton televisi, telepon, bermain video game, dan lain-lain.

Ketiga, orangtua menjadi panutan. Selama waktu tenang, orangtua bisa melakukan sesuatu, seperti menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan pekerjaan di kantor. Kalau anak sedang tidak ada PR, dorong mereka untuk membaca buku, baik sendiri maupun bersama-sama.

Keempat, orangtua harus menemani anak membuat PR. Kita harus ada di samping anak saat dia membuat PR. Jika anak tidak mampu mengerjakan PR-nya, menurut Niken, orangtua harus mencari tahu penyebabnya. Dari situ, Anda bisa mencari solusi yang sesuai dengan penyebabnya. Contoh, bila anak tidak mengerti  soal-soalnya, orangtualah yang harus menerjemahkannya sehingga materi PR itu dapat dipahami dan dikerjakan oleh anak.(MB-8)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar