MALANG-BISNIS.com - JANGAN pernah remehkan aritmia. Penyakit kelainan irama jantung ini ternyata bisa berujung pada kematian. Untuk mencegahnya tak ada salahnya Anda mulai peduli dengan irama jantung Anda.
Di antara jenis penyakit lain seperti jantung koroner atau serangan jantung, aritmia memang relatif kurang populer. Kasus aritmia juga tidak sebanyak penderita penyakit jantung koroner. Namun, kini aritmia sudah mulai rajin menyapa. Lihat saja data statistik yang menunjukkan bahwa 5 dari 1.000 orang alami aritmia. Semakin tua umurnya, faktor risiko aritmia pun semakin tinggi. Untuk orang yang berumur 70 tahun, terdapat 1 dari 10 orang penderita aritmia. Sesuai dengan namanya, aritmia (a yaitu tidak, ritmia yaitu ritmik atau irama).


Aritmia adalah kondisi di mana irama jantung tidak normal. Atau bisa juga dikatakan bahwa aritmia atau gangguan irama jantung merupakan kelainan denyut jantung. Pada kasus ini penderita bisa memiliki irama jantung yang terlalu cepat atau lambat. Secara normal, dalam keadaan istirahat, kecepatan denyut jantung manusia berkisar 60–100 detak/menit.

”Gangguan irama jantung banyak jenisnya.Pada prinsipnya dapat dibagi menjadi dua,” tutur dokter yang ahli dalam aritmia dari Rumah Sakit Jantung Binawaluya, DR dr Muhammad Munawar SpJP (K) FIHA FESC FACC FSCAI FAPSIC FASCC FCAPSC.

Pertama aritmia yang berasal dari serambi (atrial arrhythmia) dan kedua yang berasal dari bilik (ventricular arrhythmia). Keduanya juga terdiri atas banyak jenis. Ada yang dengan struktur jantung yang normal (aritmia primer) dan ada yang disertai dengan kelainan jantung (aritmia sekunder).

”Angka kejadian masing-masing jenis aritmia berbeda-beda. Tetapi secara keseluruhan, antara 1–2%, dan masing-masing jenis aritmia mempunyai kecenderungan gender yang berbeda,” ujar dia.

Penyakit ini bisa saja terjadi pada jantung normal.Ada dua golongan yang berisiko terkena gangguan irama jantung.

Golongan pertama adalah anak-anak, dewasa, dan orang tua. Golongan kedua adalah pada orang yang memiliki penyakit jantung lainnya, seperti penyakit jantung koroner.

”Pada umumnya, bila aritmia baru muncul ketika usia Anda cukup lanjut, keadaan ini harus diteliti lebih saksama dan ditangani lebih serius,” tutur Marianne J Legato MD dari Columbia University College of Physicians and Surgeons di New York City.

Aritmia memiliki beberapa gejala, antara lain keluhan termasuk palpitasi, perasaan lompatan atau getaran jantung, pusing, sesak napas, atau nyeri dada.

Namun, ada pula seseorang yang mengalaminya sama sekali tidak sadar terjadinya aritmia. Kalau mendapat gejala tersebut,segera ke dokter dan segera minta direkam jantungnya (EKG). Karena pada saat gejala ini terjadi,diagnosis lebih penting.

”Cirinya berdebar mendadak dan hilangnya mendadak. Irama yang tidak teratur, kadang-kadang juga disertai keringat dingin atau sesak napas,” kata Munawar pada saat temu media dalam acara edukasi para dokter jantung dari Indonesia dalam pelatihan penggunaan teknologi terbaru ablasi 3 Dimensi di RS Jantung Bina Waluya Jakarta beberapa waktu lalu.

Cara pencegahannya, khusus untuk aritmia primer, tidak ada karena memang sudah ada sejak lahir. Namun yang penting dilakukan adalah mendeteksi dini apabila keluhan berdebar-debar terjadi. Sedang untuk jenis sekunder, mencegah penyakit yang menyebabkan aritmia tersebut, seperti penyakit jantung koroner dan penyakit jantung katup.

Apabila gejala tersebut benar menunjukkan adanya aritmia, maka yang pertama tentu dokter akan memberitahukan penyakitnya. Pemberian obat merupakan tindakan pertama. Obat bekerja untuk mencegah terjadinya serangan sehingga harus diberikan seumur hidup. Bila obat tidak mampu lagi mengatasi serangan, baru dilakukan tindakan nonbedah yang disebut ablasi dengan frekuensi radio (AFR).

”Untuk AFR perlu pemetaan khusus.Bila aritmianya sederhana, maka yang diperlukan adalah pemetaan konvensional dengan meletakkan beberapa elektroda di jantung,” kata dia.

Lebih lanjut Munawar menjelaskan, berdasarkan sinyal tertentu yang berasal dari jaringan abnormal, kita dapat menentukan letak jaringan atau jaras yang abnormal lalu kita bakar dengan frekuensi radio.Tetapi bila aritmianya terlalu kompleks seperti atrial fibrillasi, ventrucuar tachycardia, maka diperlukan pemetaan khusus yang dinamakan noncontact mapping (3 dimensi).

Tapi sekarang penyakit ini sudah bisa ditangani secara sempurna dengan teknik ablasi 3 dimensi. Teknik ini juga sudah diterapkan pada pasien-pasien di RS Jantung Binawaluya. Selain aman dan efektif, teknik ini juga memiliki tingkat keberhasilan hingga 95% dan pasien pun tidak perlu mengonsumsi obat-obatan lagi.(MB-45)


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Membuat Web Langsung Jadi ? INDO9.COM