Griya : Kiat Memanfaatkan Loteng sebagai Ruang | MalangBisnis | Media Partner Bisnis Anda
MALANG-BISNIS.com -  cara untuk mengaplikasikan loteng. Loteng bisa didesain sebagai ruang atau tempat penyimpanan. Namun, kedua fungsi tersebut membutuhkan perhatian khusus dalam penerapannya.
Loteng adalah tingkat teratas sebuah bangunan. Biasanya penggunaan loteng cuma untuk merujuk pada tingkat atas.Namun loteng yang akan dibahas kali ini adalah loteng yang terdapat pada bagian atas sebuah rumah, yaitu sebuah ruang di bawah atap. Biasanya, loteng bisa ditemukan pada desain-desain rumah yang atapnya berbentuk segitiga.

Menurut fungsinya, loteng bisa dibagi menjadi dua, yakni loteng yang berguna sebagai ruang dan loteng sebagai tempat penyimpanan. Loteng yang berfungsi sebagai ruang biasanya dari awal pola perencanaan membangun rumah, si penghuni memang sengaja menyediakannya.

Namun, tidak menutup kemungkinan ada yang menjadikan loteng, karena kebutuhan si pemilik rumahyang makin meningkat sehingga perlu adanya ruang tambahan. Sebaiknya, perhatikan konstruksinya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar loteng dapat berfungsi secara maksimal. Hal pertama yaitu proporsi manusianya. Umumnya, ketinggian manusia, khususnya orang Indonesia, mencapai 170–180 meter. Sementara untuk loteng minimal ketinggiannya 2 meter.

Jadi, harus diperhatikan benar ukuran dimensi ruangnya juga penghuni yang ada di dalamnya sesuai atau tidak.

Ketinggian sebuah loteng, biasanya terbatas. Karena itu, hal yang perlu diperhatikan selain berkaitan dengan proporsi manusianya, yaitu fungsi.

Perhatikan pula strukturnya. Bila, strukturnya menggunakan kuda-kuda, tentu saja loteng tidak dapat dijadikan ruang. Solusinya, buat loteng sebagai tempat penyimpanan atau gudang. Untuk menjadikan loteng sebagai ruang, yang perlu penghuni perhatikan adalah peran sirkulasi udara dan cahaya.

Sebab, lokasi loteng berada di bagian paling atas, tentu ruang tersebut lebih banyak menyerap panas dibanding ruangan yang berada di lantai bawah. Karena itu, penting adanya cross ventilation.

Alternatif lain, mengeblok radiasi panas matahari agar tidak masuk ke dalam ruang. Caranya, bisa menggunakan fiber yang berguna untuk menyerap panas. Untuk jendela, sebenarnya harus ada, hanya pintar-pintarnya  Anda dalam mengaplikasikannya ke dalam loteng tersebut. Biasanya, bergantung pada proporsi ruangnya, dapat menghasilkan berapa jendela.

Biasanya 25% dari bidang dinding harus ada jendelanya. Perhatikan juga kondisi lapangannya.  Ruang biasanya terdiri atas empat sisi dari bagian. Sisi depan, belakang, kiri, dan kanan ruang.

Sebagai contoh, loteng berukuran 5x5 meter, pada bagian kiri dan kanan terhalang bangunan tetangga, begitu pun sisi belakangnya terhalang pohon rindang. Sementara sisi depan arahnya menghadap ke jalan. Mau tidak mau, yang harus dipilih untuk mengaplikasikan jendela adalah sisi bagian depan.

Untuk pengaturan cahaya, jika ingin menggunakan cahaya alami di siang hari, maka yang harus Anda lakukan adalah aplikasikan jendela lebih besar. Hal ini berkaitan dengan kedalaman ruang.

Umumnya ruang adakalanya sisi tergelapnya. Karena itu,jika jendela dirasa kurang maksimal, Anda bisa menerapkan opsi lain, yaitu pengaplikasian skylight di dalam ruang. Skylight berfungsi untuk menambah cahaya agar ruang tidak terlalu gelap.

Caranya, gunakan fiber glass atau genteng kaca dan tempatkan di sisi bagian ruang terdalam atau tergelap. Perhatikan juga dimensi skylight-nya. Sebab, dimensi skylight yang hanya digunakan untuk satu fungsi ruang berbeda dengan skylightyang digunakan untuk dua fungsi ruang.

Jika loteng hanya digunakan untuk satu ruang, maka buatlah skylight yang tidak terlalu besar. Mengingat kondisi loteng yang terbatas. Misalnya, ruang sebesar 5x10 meter persegi, maka skylight-nya dibuat 0,2x2 meter, pada sisi bagian terdalam ruang.
Berbeda ketika loteng digunakan untuk dua fungsi ruang. Misalnya,ruang tidur pertama dan ruang tidur kedua. Tentu kedalaman ruang yang ada pada ruang tidur kedua berbeda dengan pertama. Ruang tidur pertama akan lebih banyak menerima cahaya dibanding kamar tidur kedua.

Karena itu, sang penghuni dapat mengaplikasikan skylight yang lebih besar. Sebenarnya untuk menentukan besar-kecilnya dimensi skylight bergantung pada kebutuhan cahaya pada ruang tersebut. Jika cahaya yang didapat cukup, maka dimensi skylight tidak perlu besar. Begitu pun sebaliknya. (MB-89)
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar