Hindarkan Perilaku Buruk Remaja Dengan Makan Malam Keluarga | MalangBisnis | Media Partner Bisnis Anda
MALANG-BISNIS - SESUATU yang sepertinya sepele, seperti makan malam bersama, ternyata membawa dampak dan manfaat yang luar biasa bagi orangtua dan anak-anak. Tidak hanya baik untuk menjalin komunikasi, makan malam bersama juga terbukti dapat menghindarkan remaja dari perilaku buruk.
Semakin meningkatnya aktivitas anak sepulang sekolah dan panjangnya jam kerja orangtua, membuat keluarga di zaman modern saat ini semakin sulit untuk mendapatkan waktu yang berkualitas. Mencuri waktu untuk berkumpul, berkomunikasi, dan berbagi cerita setiap harinya, seperti saat makan malam misalnya, sepertinya selalu gagal diwujudkan.

Padahal, banyak pakar kesehatan dan psikologi yang menyatakan bahwa makan malam bersama dalam sebuah keluarga dapat memberikan atmosfer positif untuk tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikis. Bahkan, tidak hanya memperbaiki kesehatan gizi dan mental anak, makan malam terbukti dapat menghindarkan remaja dari perilaku buruk.

Sebuah studi terbaru menunjukkan, remaja yang jarang makan malam bersama keluarga secara rutin memiliki kemungkinan lebih besar terjebak dalam penyalahgunaan narkoba, alkohol, atau menjadi perokok, dibanding dengan remaja yang sering menghabiskan waktu makan malam dengan orang tua mereka.

Sebuah laporan dari Lembaga Nasional Pusat Kecanduan dan Penyalahgunaan Obat (National Center on Addiction and Substance Abuse/CASA) di Columbia University, Amerika Serikat, menyatakan bahwa dibandingkan dengan remaja yang makan malam dengan keluarga sebanyak lima sampai tujuh kali per minggu, mereka yang melakukannya kurang dari dua kali berisiko dua kali menjadi perokok, hampir dua kali lipat lebih mungkin mengonsumsi alkohol, dan 1,5 kali lebih mungkin mengisap ganja. Laporan CASA juga menyatakan, 72 persen dari remaja berpikir makan malam dengan orangtua mereka secara teratur sangat atau cukup penting. Lalu, remaja yang melakukannya kurang dari tiga kali per minggu, dua kali lebih mungkin untuk mengonsumsi ganja atau obat resep lain yang akan mereka gunakan untuk mabuk, dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang makan malam sebanyak 5–7 hari seminggu.

Lalu, apa pesan yang dapat ditangkap oleh para orangtua? Hasil studi tersebut juga mengungkapkan, sekitar 60 persen dari remaja partisipan yang melakukan makan malam dengan keluarga setidaknya lima kali seminggu cenderung untuk mengakui bahwa mereka memiliki teman yang mengonsumsi alkohol, ganja, rokok, atau penyalahgunaan obat terlarang yang dipengaruhi lingkungannya.

”Pesan untuk orangtua belum terlalu jelas, jika belum diketahui secara luas data tentang kenaikan orang Amerika berusia 12 tahun atau lebih yang mengonsumsi narkoba,” kata Kathleen Ferrigno, Direktur Marketing CASA.

“Hal itu lebih penting daripada selalu meminta remaja Anda untuk duduk makan malam bersama keluarga dan melibatkan anak dalam percakapan tentang kehidupan, teman- teman, dan sekolah. Itu hanya sebuah pembicaraan,” lanjutnya seperti dikutip laman webmd.com.

Sebuah laporan pada 17 September lalu oleh badan pemerintah Amerika Serikat, Substance Abuse and Mental Health Services Administration menyebutkan, penggunaan narkoba meningkat pada 2009 sebesar 8,7 persen oleh remaja berusia 12 tahun atau lebih di sana.

Ferrigno, yang juga salah satu ketua CASA mengatakan, kampanye “Makan Malam Bersama Keluarga Setiap Hari” dapat menjadi efektif jika dilihat bukan hanya konteks makan bersamanya saja. Tetapi, lanjut dia, juga karena komunikasi dan percakapan yang tercakup di dalamnya. Ferrigno menegaskan, tidak ada jaminan bahwa setiap orangtua akan selalu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga anak-anaknya agar bebas dari perangkap obat terlarang.

”Namun, pengetahuan adalah kekuatan. Semakin banyak informasi yang Anda tahu, akan semakin baik. Dan kemungkinan besar Anda akan membesarkan anak yang sehat,” paparnya Laporan CASA terbaru juga mengungkapkan, remaja yang makan malam keluarga kurang dari tiga kali per minggu akan memiliki risiko lebih dari 1,5 kali kemungkinan untuk mempunyai teman yang minum-minuman keras secara teratur dan menggunakan ganja, dibanding dengan rekan-rekan mereka yang duduk manis makan malam bersama keluarga selama lima sampai tujuh kali seminggu.

”Kami telah lama mengetahui bahwa anak-anak yang lebih sering makan malam bersama orangtua mereka, akan semakin kecil kemungkinannya untuk merokok, minum-minuman keras, atau terjebak dalam narkoba,” kata pendiri sekaligus pimpinan CASA Joseph A Califano Jr, yang merupakan mantan sekretaris jenderal (sekjen) Kementerian Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan Amerika Serikat.

”Dalam dunia modern sekarang yang dilingkupi kesibukan dan kepadatan jadwal kerja, meluangkan waktu untuk duduk bersama untuk makan malam benar-benar membuat perbedaan dalam kehidupan seorang anak,” kata Califano Jr.

Temuan laporan ini sendiri diambil dari National Survey of American Attitudes on Substance Abuse XV: Teens and Parents. Kegiatan survei ini melibatkan 1.055 remaja usia 12–17 tahun dan 456 orangtua. Laporan tersebut, Pentingnya Makan Malam Bersama Keluarga bagian VI, juga menghasilkan fakta bahwa remaja yang sering makan malam sekitar tiga kali atau lebih seminggu kemungkinan tinggi untuk memiliki hubungan yang ”sangat baik”dengan ibu dan ayah mereka. Para remaja yang makan malam rutin bersama keluarga dua kali mungkin untuk mengatakan bahwa orangtua mereka adalah pendengar yang baik.

Califano Jr mengatakan, orangtua yang tidak mampu mengajak anak remajanya untuk duduk di meja makan dapat menggunakan cara dan kesempatan yang berbeda untuk berkomunikasi dengan mereka dan pembicaraan tersebut haruslah dijalankan secara rutin.(Koran SI/Koran SI/ftr)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar