Terbuai Indahnya Siprus | MalangBisnis | Media Partner Bisnis Anda
MALANG-BISNIS.COM - ARTIKEL TRAVELING - Christina Mita, pemandu dari Organisasi Turis Siprus mengendarai  mobil Corolla dari kota Nicosia menuju kota Limassol dan Paphos. Jarak antara Nicosia dan Paphos melalui kota Limassol sekitar 150 kilometer.


Kami berusaha meningkatkan jumlah turis dari Asia dan Timur Tengah ke Siprus.
-- Marina Mylona
Limassol dan Paphos adalah kota kecil yang tenang. Limassol berpenduduk 228.900 jiwa dan Paphos berpenduduk 77.000 jiwa.

Kota Limassol dan Paphos dikenal sebagai tujuan utama turis di Siprus lantaran pantainya yang sangat indah dan banyak peninggalan sejarah kuno.

Tempat kelahiran sang legenda, Aphrodite, sang dewi di zaman Yunani kuno yang amat cantik nan romantis, terletak di suatu tempat antara Limassol dan Paphos. Aphrodite konon mengorbankan seluruh hidupnya dengan segala penderitaan hanya semata untuk melindungi kaum wanita.

Siprus pun, dengan segala legendanya itu, senantiasa menjadi rebutan penguasa dan menjadi lintasan berbagai peradaban dalam sepanjang sejarahnya. Pulau Siprus mulai dihuni sejak era Neolitik antara 9000 dan 6000 SM. Namun, Yunani kuno yang menghuni pulau tersebut pada 2000 dan 1000 SM memberinya identitas Hellenitik. Setelah itu, Siprus diduduki berbagai penguasa, seperti Assyria, Persia, Macedonia, Egypt, Rome, Byzantium, The Franks, The Venetians, The Ottoman, dan terakhir kolonial Inggris hingga meraih kemerdekaan pada 1960.

Menyelusuri jalan tol yang mulus dari Nicosia hingga Limassol, pemandangan yang terlihat di kiri kanan adalah perbukitan kering dengan tumbuh-tumbuhan pendek. Pemandangan itu mengingatkan berita yang sering dikutip media asing tentang kelangkaan air di Pulau Siprus.
”Masalah kelangkaan air sekarang sudah bisa diatasi. Pemerintah membangun banyak dam (penampungan air) untuk menampung air hujan pada bulan Desember, Januari, dan Februari (musim dingin). Pemerintah juga menggunakan teknologi penawaran air laut untuk memenuhi kebutuhan air itu,” papar Mita ketika ditanya soal berita kelangkaan air di Siprus.
Ia mengaku, dulu Siprus sempat mengimpor air dari Yunani dan Lebanon untuk memenuhi kebutuhan atas air.

Sembari berbincang tentang Siprus dan segala problemnya, tak terasa sudah berada di ambang kota wisata Limassol. Pemandangan pun berubah. Kilau air laut Mediterania mulai terlihat di tepi kota Limassol yang segera menggambarkan tentang legenda keelokan pulau Siprus.

Sering terlihat pula iklan properti yang dilengkapi nomor telepon pengembangnya di sepanjang jalan Limassol-Paphos, mempromosikan apartemen dan vila di tepi pantai.
”Harga apartemen dengan dua kamar tidur yang memiliki luas 100 meter persegi sekitar 130.000 hingga 150.000 Euro (sekitar 1,7 miliar hingga 2 miliar rupiah),” tutur Mita.
Ia mengungkapkan, banyak warga asing membeli apartemen atau vila di Siprus. ”Ada sekitar 50.000 warga Inggris yang berdomisili secara permanen di Siprus. Sebagian besar warga Inggris memilih tinggal di kota Paphos. Mereka membeli apartemen atau vila di sini. Tidak sedikit juga orang kaya Lebanon yang membeli vila di Siprus. Kalau ada perang atau ketegangan politik di Lebanon, mereka lari ke Siprus,” lanjut Mita.

Nada suara Mita tiba-tiba agak tinggi dan raut wajahnya terlihat emosi ketika melewati wilayah militer Inggris di daerah Episkopi yang berada antara kota Limassol dan Paphos.
”Kesepakatan kemerdekaan Siprus yang dicapai antara Inggris, Yunani, dan Turki di Zurich dan London tahun 1959 memberi wilayah militer kepada Inggris di Episkopi (arah barat Limassol) dan di Dhekelia (arah timur Larnaka). Dua wilayah militer yang berada di bawah kedaulatan Inggris itu mengambil 2,7 persen wilayah negeri Siprus. Ini kesepakatan yang sangat merugikan Siprus,” papar Mita.

Menurut Mita, Inggris berjanji memberi kompensasi 3 juta dollar AS per tahun kepada Pemerintah Siprus, tetapi Inggris tidak pernah memenuhi janjinya itu.

Sukses besar

Negeri Siprus terhitung sukses besar melakukan transformasi ekonomi dengan melakukan liberalisasi ekonomi secara mendasar. Pada 1960-an dan 1970-an, Siprus adalah sebuah negeri yang hanya mampu mengekspor barang produk pertanian dan tambang.
Tahun 1980-an dan 90-an, Siprus beralih jadi sebuah mukjizat ekonomi di Mediterania dengan basis pendapatan dari sektor jasa, seperti turisme, perdagangan, perbankan, properti, dan perkapalan. Sektor jasa tersebut berandil sekitar 78 persen GDB Siprus dan menyerap 65 persen pasar tenaga kerja.

Pada tahun 2007, tercatat 2,4 juta turis mengunjungi Siprus dengan pendapatan sekitar 1,9 miliar euro. Siprus memang tampak berusaha memberdayakan semua potensi untuk daya tarik turis, mulai dari pantai, situs keagamanan, seperti masjid dan gereja, pegunungan, hingga garis gencatan senjata yang membelah kota Nicosia.

Pemerintah Siprus mengucurkan dana besar untuk pembangunan infrastruktur bagi pengembangan industri turisme, seperti pembangunan bandar udara internasional Larnaka yang baru selesai November 2009 dengan menghabiskan biaya 650 juta euro. Bandar Udara Larnaka dicanangkan mampu melayani hingga 9 juta penumpang setiap tahun. Sebelumnya, bandara udara internasional Paphos, yang menghabiskan biaya pembangunan sebesar 126 juta euro, telah diresmikan pada November 2008 dan dicanangkan mampu melayani 2,7 juta penumpang setiap tahun.

LIHAT :
- Sisi-sisi pulau Kiluan
- Malut Kaya Wisata Budaya Dan Bahari
- Pernah Coba Ayam Api ?
- Mari Spa Di Pohon Mangga!
- Ayo Ke Permandian Air Hangat Sangkanurip
- Tarian Okokan Memukau Wisatawan 
- Melukis Diatas Langit

”Sebanyak 90 persen turis yang datang ke Siprus berasal dari negara Eropa, 50 persen turis Eropa itu berasal dari Inggris. Pada 2007, turis Inggris yang datang ke Siprus sekitar 1,28 juta orang,” kata Kepala Bagian Pemasaran Organisasi Turis Siprus, Marina Mylona.
Menurut Mylona, jumlah turis terbesar kedua di Siprus setelah Inggris adalah turis asal negara Skandinavia, Rusia, Jerman, Perancis, Belanda, AS, dan Kanada.

”Kami berusaha meningkatkan jumlah turis dari Asia dan Timur Tengah ke Siprus. Kami optimistis bisa memenuhi harapan karena pesawat Emirat Airways kini tiap hari terbang dari Dubai ke Larnaka (Siprus) dan pesawat Ittihad Airways tiga kali dalam seminggu terbang dari Abu Dhabi ka Larnaka. Kami juga sudah membuka kantor promosi di Dubai,” papar Mylona. (MB-12)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar